Oleh: Fauzi Rahmanul Hakim (Kepala MI Persis Cempakawarna)
Romantika guru di madrasah memiliki warna tersendiri, berbeda namun tak kalah indah dibandingkan dengan menjadi guru di sekolah umum. Ada keunikan yang lebih berwarna dalam setiap interaksi, pembelajaran, dan tantangan yang dihadapi.
Kedekatan Spiritual dan Emosional
Salah satu romantika yang paling terasa adalah kedekatan spiritual dan emosional antara guru dan siswa. Di madrasah, nilai-nilai agama tidak hanya diajarkan sebagai teori, tetapi juga diinternalisasikan dalam setiap aspek kehidupan. Guru menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai tersebut. Momen-momen seperti shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an bersama, tahsin, murajaah, ziyadah ayat demi ayat, atau berbagi cerita tentang kisah-kisah nabi, menciptakan ikatan batin yang kuat antara guru dan siswa.
Pembentukan Karakter yang Holistik
Guru di madrasah tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter siswa secara holistik. Mereka berusaha menanamkan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Proses ini seringkali membutuhkan kesabaran dan ketelatenan ekstra, namun hasilnya sangat memuaskan ketika melihat siswa tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karenanya di madrasah guru tidak lagi menuntut tapi menuntun.
Tantangan dan Inovasi
Tentu saja, menjadi guru di madrasah juga memiliki tantangan tersendiri. Keterbatasan sumber daya, kurikulum yang padat, dan tuntutan untuk mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam setiap mata pelajaran, menuntut guru untuk terus berinovasi. Mereka harus kreatif dalam menciptakan metode pembelajaran yang menarik dan efektif, serta mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan hanya satu profesi, guru bisa melahirkan berbagai macam profesi lainnya. Dokter, arsitek, polisi, TNI, dosen, semuanya dilahirkan dari seorang guru.
Kebersamaan dan Kekeluargaan
Suasana kebersamaan dan kekeluargaan yang erat juga menjadi bagian dari romantika guru di madrasah. Mereka saling mendukung dan membantu dalam menghadapi berbagai permasalahan, baik yang terkait dengan pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Momen-momen seperti rapat guru, kegiatan ekstrakurikuler, atau sekadar makan siang bersama di kantin, mempererat tali persaudaraan di antara mereka.
Pengabdian yang Bermakna
Pada akhirnya, romantika guru di madrasah terletak pada pengabdian yang bermakna. Mereka merasa terpanggil untuk mendidik generasi muda Islam yang santun, cerdas, kreatif, prestasi dan memiliki kecintaan terhadap agama dan bangsa. Setiap keberhasilan siswa, setiap perubahan positif yang mereka lihat, menjadi motivasi untuk terus memberikan yang terbaik.
Guru madrasah yang mempunyai kepribadian ganda kalau di sekolah selain mengajar, adakalanya seorang guru menjadi tempat curhat siswanya, menjadi psikolog, psikiater kalau ada yang bermasalah, menjadi designer kelas, menjadi polisi menjaga ketertiban kelas, menjadi detektif mencari tahu masalah apa yang terjadi di kelas, menjadi kebersihan, menjadi komedian ketika siswa lagi sedih, menjadi hakim yang harus bijak, jadi dokter/perawat apabila ada yg sakit, menjadi fotografer dokumentasi kegiatan anak di kelas dan dikirim ke orangtua, menjadi motivator memberi semangat kepada siswa dan banyak lagi keperibadian ganda seorang guru.
Menjadi guru di madrasah adalah sebuah perjalanan yang penuh warna, dengan suka dan duka yang silih berganti. Namun, di balik semua itu, ada kebanggaan dan kepuasan tersendiri yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Romantika ini akan terus membekas dalam hati setiap guru yang pernah mengabdikan dirinya di madrasah.
Powered by Froala Editor
No comments yet. Be the first to comment!